Imam Syafii Rahimahullah pernah memberikan nasihat:
اجْعَلِ الآخِرَةَ فِي قَلْبِكَ، وَالدُّنْيَا فِي يَدِكَ، وَالْمَوْتَ بَيْنَ عَيْنَيْكَ
(Ij’alil-akhirata fi qalbika, wad-dunya fi yadika, wal-mauta baina ‘ainaika)
Terjemahan: Jadikan Akhirat di hatimu dunia di tanganmu dan kematian di pelupuk matamu.
Meskipun kutipan ini sangat populer dalam kitab-kitab akhlak dan zuhud, secara spesifik kalimat ini merupakan bentuk hikmah (kata bijak) yang meringkas prinsip hidup seorang Muslim.
- Dunia di tangan: Simbol bahwa dunia hanya sarana atau alat yang dikendalikan, bukan sesuatu yang menguasai perasaan atau membuat seseorang diperbudak oleh harta.
- Akhirat di hati: Menjadikan ridha Allah dan keselamatan di akhirat sebagai niat utama dalam setiap tindakan.
- Kematian di pelupuk mata: Mengingat kematian setiap saat agar senantiasa waspada, rendah hati, dan tidak menunda amal saleh.
Pesan serupa mengenai “meletakkan dunia di tangan dan bukan di hati” juga tercermin dalam perkataan Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya apakah orang kaya bisa menjadi zahid (orang yang zuhud). Beliau menjawab: “Bisa, asalkan kekayaan itu ada di tangannya dan tidak di hatinya.”
Hati merupakan penentu baik atau buruknya seluruh anggota tubuh, termasuk tangan. Jika hati terjaga, maka tangan tidak akan digerakkan untuk maksiat.
Nabi Muhammad Saw bersabda “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Perbanyak zikir (mengingat Allah) , hindari perkara syubhat (ragu-ragu), dan segera hilangkan bisikan buruk di hati sebelum menjadi tekad untuk berbuat dosa.
Postingan di media sosial lainnya:

https://www.instagram.com/p/DS1d5IDk64Q/?igsh=MXIwMnRocm55NTc1OQ==
(Penulis: tim humas SD Muh 6 Plus Ska)





